Monday, October 12, 2015

Akhirnya...resign di tahun baru 1437H



Akhirnya....


Tanggal 1 Muharram 1437H saya pilih untuk memulai 'hidup' baru saya melepas status pegawai yang melekat selama ini. Tahun yang baru, status yang baru dan tantangan yang baru.
Hijrah dari kepastian penghasilan setiap bulan ke ketidak pastian penghasilan, hijrah dari status pegawai ke status pedagang, hijrah dari kantor di kawasan segitiga emas kuningan ke sekotak ruangan di rumah.
Bukan keputusan yang mudah untuk meninggalkan kenyamanan selama 11 tahun terakhir dan menggantinya dengan apa yang bisa disebut dengan ketidak nyamanan (dalam konteks bekerja), mulai dari lingkungan meja kerja senyap ber-ac ke lingkungan meja yang sebaliknya, dari mendelegasikan pekerjaan ke anak buah yang 17 orang ke mengerjakan semuanya berdua (dengan istri).
Hampir setiap orang yang saya kenal menanyakan keputusan saya ini, tapi dengan InsyaAllah dan Bismillah saya tetap dengan keputusan saya ini (dengan ijin ibunda tentunya).
Keputusan ini bukan keputusan yang mendadak atau ujug”, tetapi jauh” hari, setelah beberapa kali keputusan ini batal dikarenakan alasan yang berbeda-beda, mungkin sekarang ini saat yang tepat yang sudah Allah ijinkan karena dimudahkan.
Sekian lama saya (kami) memimpikan resign yang ideal, ketika masih karyawan membuat usaha sampingan dan ketika hasil dari usaha tersebut sudah minimal sama dengan gaji sebagai pegawai, saat itulah yang tepat untuk resign dan fokus di usaha.
Namun, saat itu tidak pernah datang kepada saya, usaha sampingan saya selalu kolaps, balik modal saja sudah untung, tapi banyak yang menyisakan hutang. Usaha yang dijalankan isitri di rumah pun belum bisa setara dengan gaji.
Saya pun mengganti target, at least tidak ada hutang dan cadangan selama 3 bulan, saya resign.
Alasan resign saya sebernya tidak hanya satu, tapi beragam. Selain banyak mengikuti seminar dan workshop kewirausahaan, saya juga beberapa kali mengikuti seminar bahkan akademi parenting. Dan di akademi parenting itulah saya bertekad, lunasi hutang-hutang, siapkan cadangan 3 bulan, mulai dari rumah, beresin usaha yang berjalan baik itu babygiftland (www.babygiftland.com) maupun tas bayi (www.tasbayi.net) dan yang terpenting bantu istri untuk mengurus anak-anak dan rumah, sisanya biar Allah yang beresin. Pokoke resign dulu, nyebur dulu.
Jadi itulah alasan saya resign, yang pertama untuk membantu istri di rumah, mengurus anak-anak (keluarga), yang kedua untuk merapikan usaha-usaha kami (bisnis) dan yang terakhir mungkin untuk menenangkan pikiran (mind).
11 tahun bekerja di kantor yang sama ternyata kurang lebih urusan kantor menempati 75% isi otak saya, bahkan jika ada masalah kantor pun pikiran menjadi tidak tenang sampai terbawa mimpi dan dengan resign saya harap ada space 75% untuk mengisi pikiran ini dengan hal lain.


Dan....


Bismillah per tanggal 1 Muharram 1437H, saya resign dan hijrah dari pegawai ke pedagang.
Mohon dukungan dan doanya...


Jakarta, 12 Oktober 2015

6 comments:

Antie Purnomo said...

Bismillah...turut mendoakan...semoga lancar & berkah bagi kita sekeluarga...we love you always...Amiin...

Purnomo Wardoyo said...

Mantabs bro .. smoga barokah. turut bangga menjadi bagian sejarah mendirikan usaha sampingan bareng :)
Doakan bisa menyusul ...

Arya Meisadhana said...

Sangant mendukung sekali bro..doain juga kita2 yang masih pegawai ini juga bisa jadi pedagang seperti Rasulullah SAW dulu..

Enterprenuer

wahyudin mukhamad said...

MasyaAllah.... Menginspirasi. Hal yang membuat jenuh memang menurutku beban pikiran itu... Doakan saya semoga segera bisa memiliki usaha yang berkah ...

wahyudin mukhamad said...

MasyaAllah.... Menginspirasi. Hal yang membuat jenuh memang menurutku beban pikiran itu... Doakan saya semoga segera bisa memiliki usaha yang berkah ...

Andi Purnomo said...

aamiiiin untuk semua...